Senin, 18 April 2016

WAHABI dan IBLIS



.
DIALOG GUS DUR DAN SANTRI
Santri : "Manusia beriman itu di dunia bagaikan dipenjara, yang tidak beriman bagaikan di surga.
Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

Hikmah Rajab 9

Maqamat al Awliya
Sahabatku ....
Imam al Tirmidzi membagi maqamat al Awliya kedalam lima maqam, yaitu:
1. Muwahhidun
2. Shadiqun
3. Shiddiqun
4. Muqarrobun
5. Munfariddun
‪#‎Muwahhidun‬
orang yang mengesakan Allah disebut ahl al Tawhid, seorang ahl al Tawhid telah keluar dari kekufuran dan telah memiliki cahaya iman , inilah yang disebut al Tirmidzi sebagai awwal manzil sl qurbah ( permulaan peringkat kedekatan kepada Allah )
Tetapi masih berada pada posisi qurbat al ammah ( kedekatan secara umum ) bukan qurbat al awliya ( kedekatan para Wali )
‪#‎Shadiqun‬
Kedudukan rohani al shadiqun berada di langit dunia di suatu tempat bernama bayt al izzah ( wisma keagungan )
‪#‎Shiddiqun‬
Kedudukan rohani shiddiqun berada di mahall al ahrar al kiram ( tempat orang orang merdeka lagi mulia ) di bayt al ma`mur di dekat iliyyin di atas langit ke tujuh, mereka berpencar dari illiyin menuju arasy sesuai dengan peringkatnya hingga berada di mahall al arba`in di sekitar arasy
Shiddiqun adalah mereka yang telah merdeka dari perbudakan nafsu sehingga kekuatan dorongan rendahnya tidak dapat kembali lagi pada diri mereka.
‪#‎Muqarrobun‬
Mereka adalah shiddiqun yg memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas kedekatan pada Allah pada martabat al muqarrabin ( martabat para Wali yg didekatkan kepada Allah ) bahkan hingga berada pada puncak kewalian
Proses transformasi ruhaniah para Wali hingga dekat dan menyatu dengan Allah, yaitu :
Allah telah menempatkan para Wali pada satu martabat dengan syarat mereka dapt mempertahankan posisinya pada martabat tersebut. Ketika para Wali memenuhi syarat , maka Allah akan segera memindahkannya pada malak al jabarut kemudian di mutasikan pada malak al sulthan guna dididik ruhaninya.
Kemudian di mutasikan kembali ke malak al Jalal guna memperoleh adab, kemudian di mutasikan pada malak al jamal guna di sucikan ruhaninya, kemudian dipindah masa malak al azhamah guna di bersihkan jiwanya, lalu di pindahkan pada malak al hibah guna di sucikan jiwanya, kemudian di pindahkan pada malak al rahmah guna dilapangkan kapasitas ruhaniahnya. Lalu di pindahkan pada malak al baha guna di bimbing keruhaniannya, kemudian di pindahkan pada malak al bahja guna mempercantik kwalitas ruhaniahnya . Kemudian di tingkatkan pada posisi malak al fardhaniah agar merasakan kemanunggalan dengan Tuhannya.
‪#‎Munfariddun‬
Adalah orang orang mencapai puncak kewalian tertinggi , yang telah melewati peringkat masing masing maqam dan telah sempurna .
Lalu Allah mengangkat salah seorang pada puncak kewalian tertinggi yang di sebut " malak al malak " dan menempatkan seorang wali pada posisi bayna yadayhi ( dihadapanNya ) di posisi inilah ia sibuk dengan Allah dan lupa pada segala sesuatu selain Allah .
Ketahuilah...
Seorang wali yang mencapai puncak kewalian tertinggi ini berada pada maqam al Munfariddun atau posisi malak al fardaniyyah, yaitu posisi merasakan kemanunggalan dengan Allah.
WaAllahu a`lam.

Tiga hal yang tak bisa dicapai dengan 3 hal

situs situs wahabi

hati yang bersih

segi 3 cinta

dilakoni ae